“Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, Aku telah memberikannya kepadamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa” (Yosua 1:3).
Ada wilayah luas dari janji-janji ilahi yang tetap belum dijelajahi dan belum diklaim, menunggu mereka yang bersedia melangkah maju dalam ketaatan dan iman. Ketika Allah berkata kepada Yosua: “Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, Aku akan memberikannya kepadamu,” Dia menetapkan sebuah prinsip yang kuat: wilayah janji itu tersedia, tetapi harus direbut dengan tekad dan tindakan. Allah telah menetapkan batas-batas tanah itu, tetapi orang Israel hanya memiliki apa yang mereka ukur dengan kaki mereka sendiri. Sayangnya, mereka hanya menjelajahi sepertiga dari tanah yang dijanjikan dan, karena itu, mereka terbatas pada apa yang bersedia mereka capai.
Demikian juga dengan kita. Pengalaman kita dengan Allah dan pencapaian janji-janji-Nya sangat bergantung pada seberapa besar kita bersedia menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya. Banyak orang menginginkan pencapaian besar dan kepemimpinan rohani, tetapi tidak mau tunduk pada ketaatan terhadap perintah-perintah ilahi. Mereka menginginkan berkat, tetapi menolak komitmen yang menyertainya. Ketidakseimbangan ini membatasi apa yang dapat kita alami dari kepenuhan Allah, karena Dia tidak membagi kemuliaan-Nya dengan mereka yang hidup dalam ketidaktaatan.
Jika kita benar-benar ingin bertumbuh dalam keintiman dengan Allah dan merebut wilayah rohani serta fisik yang telah Dia janjikan kepada kita, kita perlu meninggalkan keinginan kita sendiri dan memusatkan perhatian pada apa yang Dia kehendaki dari kita. Segala sesuatu yang Allah tuntut telah dinyatakan dalam Kitab Suci-Nya, dan dengan menaati perintah-perintah-Nya, kita akan melihat pintu-pintu terbuka di hadapan kita. Ketika kita kembali kepada-Nya dengan hati yang setia dan taat, jalan akan menjadi luas, dan pencapaian besar secara materi maupun rohani akan menjadi kenyataan dalam hidup kita. -Diadaptasi dari A. T. Pierson. Sampai besok, jika Tuhan mengizinkan.
Berdoa bersama saya: Allah yang terkasih, aku mengakui bahwa banyak dari janji-Mu tetap belum dijelajahi dalam hidupku karena aku sering ragu untuk melangkah maju dalam iman dan ketaatan. Sama seperti orang Israel hanya memiliki tanah yang mereka ukur dengan kaki mereka, aku tahu bahwa pencapaian berkat-Mu bergantung pada kesediaanku untuk mengikuti kehendak-Mu dengan tekad dan komitmen. Tolonglah aku untuk meninggalkan sikap pasif dan berjalan dengan keberanian menuju apa yang telah Engkau persiapkan bagiku.
Bapa, hari ini aku mohon agar Engkau memberiku hati yang rela untuk sepenuhnya menyesuaikan diri dengan kehendak-Mu. Aku tidak ingin menginginkan berkat tanpa menerima komitmen yang menyertainya. Ajarlah aku untuk tunduk pada perintah-perintah-Mu, mengetahui bahwa dalam ketaatan aku menemukan kepenuhan hadirat-Mu. Aku ingin melepaskan keinginanku sendiri dan merangkul rencana-Mu, percaya bahwa rencana-Mu selalu lebih baik dan lebih tinggi.
Oh, Allah Yang Maha Kudus, aku memuji-Mu karena Engkau telah menyatakan segala sesuatu yang kubutuhkan untuk mencapai hal-hal besar. Terima kasih karena Firman-Mu jelas dan cukup untuk membimbingku. Kiranya kesetiaan dan ketaatanku membuka jalan bagi pencapaian besar, sehingga kemuliaan-Mu bersinar dalam hidupku. Anak-Mu yang terkasih adalah Pangeran dan Juruselamatku yang kekal. Hukum-Mu yang penuh kuasa adalah sahabatku yang setia. Aku mengasihi perintah-perintah-Mu, karena itu seperti alat musik indah yang memainkan melodi damai dan sukacita di hatiku. Aku berdoa dalam nama Yesus yang berharga, amin.
























